
Para seniman menilai kepemimpinan DKKP saat ini di bawah Ragil sudah tidak efektif, bahkan dituding gagal merangkul dan memajukan seluruh elemen seni di Kota Batik.
Tokoh teater kondang, Hadi Lempe, tampil berorasi dengan lantang di hadapan massa. Ia secara eksplisit menyuarakan ketidakpuasan mendalam komunitas seni.

“Kami menuntut agar Ragil segera diganti! Kami juga mendesak Dinparbudpora untuk segera mengadakan Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) tanpa adanya intervensi dari pihak dinas,” tegas Hadi, disambut riuh tepuk tangan seniman lain.
Senada dengan Hadi, A. Saeri, Ketua Aliansi Seniman Kota Pekalongan yang juga menjabat Ketua PAMDI (Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia), menyoroti masalah transparansi. Menurutnya, audiensi dengan Dinparbudpora adalah puncak kekecewaan terhadap DKKP yang selama ini mengabaikan aspirasi mereka.
“Kurangnya transparansi dalam pengelolaan anggaran serta pertanggungjawaban yang tidak akuntabel di bawah kepemimpinan Ragil menjadi masalah besar. Kami menyatakan mosi tidak percaya terhadap saudara Ragil dan mendesak agar Musdalub segera dilaksanakan,” tandas Saeri.
Kepala Disparbudpora Kota Pekalongan, Subaryo, langsung memberikan respons cepat terhadap tuntutan ini. Ia menyatakan apresiasinya terhadap unek-unek para seniman dan berjanji akan memfasilitasi pelaksanaan Musda untuk memilih kepengurusan DKKP yang baru.
Keputusan tegas pun diambil Subaryo. “Dengan demikian, kepengurusan DKKP di bawah kepemimpinan Ragil akan dibekukan. Kami akan segera membuat surat pembekuan kepengurusan,” jelasnya.
Aksi yang berujung pada pembekuan kepengurusan DKKP ini menjadi bukti nyata adanya gejolak dan harapan besar dari kalangan seniman Pekalongan. Mereka berharap kepengurusan yang baru akan lebih responsif, akuntabel, dan mampu membawa kemajuan signifikan bagi seni budaya lokal.










